Pemerintah Dorong Proyek DME Batu Bara Disebut Wajib Libatkan Teknologi CCUS
- Kamis, 12 Februari 2026
JAKARTA - Pemerintah Indonesia semakin fokus pada pengembangan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME), sebagai bentuk substitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam mendukung ketahanan energi nasional. Namun, di tengah upaya ini, para pakar menekankan bahwa proyek semacam itu harus dilengkapi dengan teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon (Carbon Capture, Utilization and Storage/CCUS) agar dampak emisi bisa ditekan secara efektif.
Fokus Baru pada Proyek Hilirisasi Energi
Upaya pemerintah dalam mengembangkan alternatif energi berbasis batu bara terus berjalan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah proyek DME, yang dirancang untuk menjadi solusi substitusi LPG yang sebagian besar masih diimpor. Menurut anggota Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) sekaligus Guru Besar Teknik Pertambangan ITB Irwandy Arif, selain pengembangan teknologi DME itu sendiri, penerapan CCUS menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan.
Baca JugaMendag Laporkan 149 Pasar Terdampak Bencana Kembali Beroperasi
Irwandy menjelaskan bahwa teknologi CCUS diperlukan untuk menekan emisi dari proses gasifikasi batu bara yang menjadi bagian inti produksi DME. “CCUS setau saya wajib. Nah harga CCUS ini cukup mahal tapi berbeda-beda tiap negara,” ungkapnya dalam Workshop Mining for Journalist yang diselenggarakan oleh PERHAPI di Jakarta pada 10 Februari 2026.
Peran CCUS dalam Menangani Emisi Proyek Energi
Teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sebelumnya, penerapan CCUS banyak dilakukan terutama di sektor minyak dan gas, yang menjadi salah satu fokus investasi teknologi rendah karbon di Indonesia. Salah satu contoh nyata adalah proyek Tangguh Ubadari, yang kini sedang dikembangkan oleh BP dan mitra-mitranya di Papua Barat dengan investasi besar mencapai US$7 miliar.
Proyek tersebut dipandang sebagai salah satu contoh awal implementasi CCUS skala besar di tanah air, dengan target potensial menyekuestrasi sekitar 15 juta ton CO? pada tahap awal. Menurut Irwandy, pelajaran dari proyek semacam itu bisa menjadi landasan bagi pengembangan teknologi sejenis pada proyek hilirisasi batu bara. Tanpa CCUS, tantangan emisi dari produksi DME dikhawatirkan bisa berujung pada target lingkungan yang tidak optimal.
Tahapan Finalisasi Proyek DME oleh Pemerintah
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Menteri Bahlil Lahadalia memastikan bahwa proyek DME batu bara saat ini telah memasuki tahap finalisasi bersama Badan Pengelola Investasi Danantara. Bahlil menyatakan bahwa proses tersebut hampir selesai dan menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas serta menciptakan kepastian investasi, khususnya di sektor mineral, batubara, dan minyak & gas.
Lebih lanjut, Bahlil menyebut bahwa proyek ini merupakan salah satu dari 18 proyek hilirisasi yang dibidik oleh Satgas Hilirisasi. Untuk tahap awal, proyek DME direncanakan untuk dikembangkan dalam enam lokasi potensial di Indonesia, yakni Bulungan (Kalimantan Utara); Kutai Timur (Kalimantan Timur); Kota Baru (Kalimantan Selatan); serta Muara Enim, Pali, dan Banyuasin (Sumatera Selatan). Jumlah total investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar Rp164 triliun.
Tantangan Implementasi dan Kebutuhan Teknologi Pendukung
Meski potensi besar proyek ini cukup menjanjikan, tantangan implementasi tetap ada, terutama dari sisi biaya dan teknologi yang diperlukan. Teknologi CCUS sendiri dikenal memiliki biaya tinggi, yang menurut Irwandy berbeda-beda tergantung pada kondisi dan kapasitas negara yang menerapkannya. Ini menjadi perhatian utama di tengah upaya pemerintah untuk menekan dampak lingkungan sambil tetap mengejar target energi nasional.
Para ahli menilai bahwa tanpa integrasi CCUS yang efektif, proyek hilirisasi batu bara berisiko mengeluarkan emisi yang cukup besar, sehingga keberlanjutan lingkungan dan tujuan pengurangan emisi nasional bisa terganggu. Hal ini menjadi peringatan penting bagi pemangku kebijakan agar memperhatikan aspek ini sejak tahap perencanaan awal, bukan sekadar fokus pada produksi dan investasi.
Strategi Nasional dalam Diversifikasi Energi
Proyek DME merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menghadapi tantangan ketergantungan energi impor, khususnya LPG. Dengan memperluas hilirisasi batu bara ke produk bernilai tambah seperti DME, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan pada impor serta meningkatkan kemandirian energi nasional.
Namun untuk mencapai tujuan tersebut secara berkelanjutan, integrasi teknologi pengendalian emisi melalui CCUS dinilai sebagai langkah penting. Pemerintah harus menyeimbangkan antara kebutuhan energi, kestabilan investasi, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Strategi ini diharapkan dapat mendukung Indonesia dalam transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan.
Fery
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Hasil Liga Inggris: Liverpool Menang Tipis dan "Beruntung" Saat Menghadapi Sunderland
- Kamis, 12 Februari 2026
Prediksi Pisa vs AC Milan: Pertarungan Sengit di Hari Valentine Serie A 2026
- Kamis, 12 Februari 2026
Serie A Pekan 24: Jadwal Padat dan Kondisi Kebugaran Pemain Menjadi Sorotan Utama
- Kamis, 12 Februari 2026
Berita Lainnya
Strategi Baru DKI Jakarta Amankan Pasokan Beras Jelang Ramadan Melalui Kolaborasi Petani Daerah
- Kamis, 12 Februari 2026
Pemerintah Perkuat Perlindungan Sawah dan Petani Kecil Melalui Pengendalian Alih Fungsi Lahan
- Kamis, 12 Februari 2026
Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Ketegangan Amerika Iran Dan Dinamika Pasokan Global
- Kamis, 12 Februari 2026
Stok BBM Nasional Aman Meski SPBU Shell Kosong Pemerintah Tegaskan Pasokan
- Kamis, 12 Februari 2026












